Minggu, 18 April 2010

Keistimewaan Hari JUM'AT


Hari Jum'at adalah hari dimana disunnahkan menangguhkan tidur pagi (qailulah) dan makan siang pada setiap hari Jum'at. Mengenai hal ini, Bukhari dan Muslim mengemukakan hadits dari Sa'ad bin Salih yang mengatakan : "Kami tidak tidur pagi dan tidak makan siang kecuali sesudah Sholat Jum'at"

Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Aus bin Aus Ath-Thaqafi ra. yang menyebutkan bahwa dia mendengar sendiri Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang membersihkan badan dan mandi pada hari Jum'at, setelah itu dia siap segera berangkat menghadiri sholat Jum'at, berjalan kaki, tidak berkendaraan, lalu mendekati Imam (duduk di shaf terdepan) dan tidak membuat sia-sia serta mendengarkan khutbah baik-baik, maka setiap langkah (yang ditempuh dalam perjalanan ke Masjid) dia memperoleh ganjaran pahala satu tahun puasa dan sembahyang-sholat Jum'atnya"

Hari Jum'at adalah hari dimana Rasulullah saw, melarang bercukur rambut sebelum shalat Jum'at. Hal ini itu dinyatakan mengikut satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, diperoleh dari Amr bin Syu'aib yang menerima dari ayahnya sendiri (Syu'aib). Dikatakan oleh Syu'aib bahwa dia menyaksikan sendiri Rasulullah saw melarang bercukur rambut pada hari Jum'at sebelum Sholat Jum'at.

Hari Jum'at adalah hari dimana terlepas dari siksa kubur. Abu Ya'la mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Anas ra yang menyebut bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Barangsiapa yang meninggal dunia pada hari Jum'at, dia terhindar dari siksa kubur."

Hari Jum'at adalah hari dimana sedekah berlipat ganda. Ibnu Abi Syaibah di dalam "Al-Mushannaf" mengetengahkan sebuah hadits yang diperoleh dari Ka'ab yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Pahala sedekah berlipat ganda pada hari Jum'at"

Hari Jum'at adalah hari dimana pahala kebajikan dan dosa kejahatan berlipat ganda. Ibnu Syaibah mengemukakan hadits yang diperoleh dari Ka'ab yang menyebutkan bahwa hasanah dan sayyiah yang diperbuat pada hari Jum'at pahala dan dosa masing-masing berlipat ganda. Hadits yang lebih kurang serupa diriwayatkan juga oleh Tabrani. Oleh Humaid bin Zanjawiyyah, dari Abu-Haitham dan Abu Sa'id di dalam Fa-dha-'ilul-A'mal", diriwayatkan juga oleh Al-Musayyab bin Rafi.

Hari Jum'at adalah hari dimana tidak dimakruhkan sembahyang tengah hari, yakni sembahyang ketika matahari tepat di atas kita. Mengenai hal itu, Abu Dawud mengemukakan sebuah hadits dari Qatadah, diperoleh dari Rasulullah SAW, bahwa baginda memakruhkan sembahyang tengah hari kecuali pada hari-hari Jum'at, setelah itu menyatakan :

"Neraka Jahanam terus-menarus menyala-nyala kecuali pada hari Jum'at"

Hari Jum'at adalah hari dimana seseorang dilarang melakukan musafir jauh sebelum melakukan Sholat Jum'at. Hal itu dinyatakan mengikuti satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, diperoleh dari Hassan bin Atiyyah yang menyebut bahwa orang yang pada hari Jum'at berangkat musafir jauh (sebelum menunaikan sholat Jum'at) dia didoakan keburukan (oleh Malaikat), tidak ditemani dan dibantu.

Hari Jum'at adalah hari penghapusan dosa. Ibnu Majah mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Abu Hurairah ra, yang menyebut bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Dari hari Jum'at hingga Jum'at berikutnya adalah masa penghapusan dosa (bagi orang yang menunaikan sholat Jum'at), manakala dia tidak berbuat dosa besar (kaba'ir)."

Mengikuti satu hadits lainnya lagi, yaitu yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, diperoleh dari Sulaiman menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepadanya : "Tahukah engkau apakah hari Jum'at itu ?" Dia menjawab, "Allah SWT dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. " Baginda setelah itu menjelaskan, "Hari itu adalah hari dimana Allah SWT mengumpulkan kedua orang tua kamu. Seorang hamba yang berwudlu dengan baik lalu datang ke Masjid untuk menunaikan Sholat Jum'at, Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya (yang diperbuat) dari Jum'at yang satu sampai Jum'at lainnya."

Hari Jum'at adalah hari dimana Rasullulah SAW menganjurkan umatnya supaya banyak-banyak bershalawat kepada Baginda :

"Hendaklah kamu banyak-banyak bersholawat kepadaku pada hari Jum'at karena hari itu adalah hari yang disaksikan (Masyud) oleh Malaikat."

Hari Jum'at adalah hari dimana istigfar sebelum sembahyang Subuh pasti akan terkabul. Tabrani dalam "Al-Ausat" mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Anas ra, yang menyebut bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa beristigfar (mohon ampun) tiga kali sebelum sembahyang Subuh pada hari Jum'at dengan mengucapkan : "Astagfirullah Allazi lailaha illa huwalhayyul-qayyum wa atubu ilaihi" maka dosa-dosanya diampuni Allah SWT meskipun dosanya sebanyak buih di Lautan."

Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Aus bin Ath-Thaqafi ra, yang menyebutkan bahwa dia mendengarkan sendiri Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang membersihkan badan dan mandi pada hari Jum'at, setelah itu dia siap segera berangkat menghadiri Sholat Jum'at, berjalan kaki, tidak berkendaraan, lalu mendekati Imam (duduk di shaf terdepan) dan tidak berbuat sia-sia serta mendengarkan khutbah baik-baik, maka setiap langkah (Yang ditempuh dalam perjalanan ke Masjid) dia memperoleh ganjaran pahala satu tahun puasa dan sembahyang - Sholat Jum'atnya."

Hari Jum'at adalah hari penciptaan Adam as. Muslim mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Abu Hurairah ra, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Hari terbaik dimana Matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukan ke dalam Syurga dan pada hari itu pula dia dikeluarkan dari Syurga. Dan hari kiamatpun akan terjadi pada hari Jum'at."

Hari Jum'at adalah hari berlimpahnya magfirah. Ibnu adiy dan Tabrani dalam "Al-Ausat" mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Anas ra, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya bahwa Allah SWT Tabaraka wa Ta'ala tidak membiarkan seorang muslimpun yang tidak diampuni dosanya."

Asy-Syaukani mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Abu Hurairah ra, yang menyebut bahwa Rasulullah SAW, ketika menyebut hari Jum'at bersabda :

"Di dalam hari itu terdapat suatu saat dimana seorang hamba Allah SWT yang menjumpainya, setelah itu dia sembahyang mohon sesuatu kepada Allah SWT, permohonannya pasti diperkenankan."

Tabrani mengemukakan hadits yang diperoleh dari Abu Umamah yang menyebut bahwa Rasulullah SAW, bersabda :

"Barangsiapa menunaikan shalat Jum'at, berpuasa pada hari itu ( dalam keadaan berpuasa pada dua hari sebelum dan sesudahnya), menjenguk orang sakit, menziarahi jenazah dan menyaksikan pernikahan, dia berhak masuk Syurga."


Disadur dari buku yang berjudul "Keistimewaan hari Jum'at : Rahasia, Hikmah dan Panduan Amalannya oleh Marzuqi Yaquub

Iblis Dan Islam


Suatu ketika iblis dan setan-setannya berkumpul dalam suatu parlemen untuk membahas perkembangan dunia dan bahaya-bahaya yang akan dihadapi setan dimasa-masa yang akan datang, bahaya yang akan mengancam sistem iblis. Salah satu setan melaporkan, "Baginda, kami dengar seorang yahudi muncul dari Jerman, namanya Karl Marx, dia bukan seorang nabi tapi membawa kitab suci. Dia bermaksud memperbaiki dunia ini dan mengubah bangsa yang tertindas menjadi penguasa, ini tantangan buat kita"

Iblis menjawab, " Tidak.. karena Marxisme menghancurkan fitrah manusia, ia tidak akan sanggup mengubah alam ini."

Kemudian satu demi satu melaporkan faham-faham filsafat yang akan mempengaruhi umat manusia. Kemudian Iblis berkata lagi, "Yang aku takutkan ialah suatu umat yang dalam jantungnya bergelora semangat untuk memperbaiki dunia ini, suatu umat yang didalamnya terdapat manusia yang renggang pinggangnya dari tempat tidurnya, yang berlinang air matanya pada waktu dini hari, yang bersujud bersimpuh di hadapan Allah. Yang mengancam kita adalah Islam. Islam adalah fitnah kita di masa datang, bukan istiraqiyyah, bukan jumhuriyyah, bukan marxiyyah."

"Aku juga tahu," kata Iblis, "bahwa umat islam ini merupakan tantangan kita, akan tetapi sekarang umat islam sudah menjauhi Al Quran, mereka terpesona dengan kekayaan dan sibuk menghitung-hitungnya seperti juga umat terdahulu, dan saya juga tahu bahwa ulama-ulama tidak lagi memiliki tangan putih yang dengannya disinari kegelapan. Tetapi aku khawatir zaman akan datang juga, umat ini akan bangkit dan mereka menghadap ke syariat Muhammad. Aku peringatkan kalian dari agama Muhammad, agama yag mengajarkan kemuliaan dan keagungan, agama yang mengajarkan kejujuran dan kesucian, agama yang mengajarkan harga diri dan kepahlawanan, agama yang mengajarkan jihad.

Dengan agama inilah dihilangkan seluruh penghambaan manusia, tidak beda dalam agama ini antara tuan dan budak, tidak beda dalam agama ini antara penguasa dan rakyat biasa. Ini yang aku takutkan karena mereka nanti bakal muncul sebagai penguasa di bumi ini dan yang aku takutkan lagi adalah pada saat mereka berteriak 'seluruh bumi ini kepunyaan Allah, bukan lagi kepunyaan raja dan penguasa '!"

"Karena itu berjuanglah kamu sedapat mungkin, usahakan agar agama ini tersembunyi dari mata manusia, berikan yang dianggapnya ritual-ritual keagamaan sementara tidak ada keparcayaan kepada dirinya dan Tuhannya, imannya sedikit, dan sibukkanlah mereka dengan masalah-masalah perbedaan pikir sehingga dengan itu kita sanggup melemahkan mereka, dan usahakan pula agar telinganya tidak mendengar sentuhan adzan karena adzan bisa menghancurkan sihir kita, lalu sibukkanlah mereka dengan kemaksiatan-kemaksiatan, dan jauhkanlah dari jihad dan beramal."

Lalu pada akhir ceritanya iblis berkata, "Duhai malangnya, alangkah celakanya kalau umat ini bangkit, hancurlah seluruh sistem kita karena kebangkitan umat ini."

Paparan di atas menunjukkan bahwa tantangan terbesar umat manusia bukan kenaikan harga-harga dan ancaman krisis di depan mata. Karena Iblis sudah berjanji untuk menyesatkan umat manusia dengan berbagai cara.

Pada suatu waktu Rasulullah bertanya pada iblis, "Berapa banyak teman baikmu dari umatku?"

Iblis menjawab, "teman akrabku di antara umatmu ada 10 golongan, yaitu:
1. Pemimpin yang tidak jujur/Zalim.
2. Orang yang takabur/Ujub.
3. Orang kaya yang tidak peduli dari mana hartanya didapat dan ke mana dipergunakan.
4. Orang alim yang membenarkan pemerintah berbuat penyelewengan.
5. Pedagang yang menipu.
6. Orang yang menimbun keperluan umum untuk dijual pada waktu harga mahal
7. Ahli/Tukang Zina.
8. Orang yang memakan harta dari hasil Riba/Renten.
9. Orang bakhil, tidak memperhatikan dari mana ia mengumpulkan harta.
10. Peminum arak.

Kemudian Rasulullah bertanya lagi, "Berapa banyak pula musuhmu di antara umatku?"

Iblis menjawab, "Musuh-musuhku di antara umatmu ada 20 golongan, yaitu:
1. Yang jelas Engkau sendiri, hai Muhammad, maka sesungguhnya aku sangat membencimu.
2. Orang alim yang beramal dengan ilmunya.
3. Orang yang memelihara Al Quran dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.
4. Tukang adzan [Muazin] yang ikhlas karena Allah.
5. Orang yang mencintai fakir miskin dan anak yatim.
6. Orang yang menyayangi sesama manusia.
7. Orang yang tunduk kepada kebenaran.
8. Pemuda yang giat dan taat kepada Allah.
9. Yang memakan makanan yang halal.
10. Dua pemuda yang saling mengasihi karena Allah.
11. Orang yang rajin shalat berjamaah.
12. Orang yang shalat malam sedang yang lain enak tidur nyenyak.
13. Orang yang menahan diri dari segala larangan Allah.
14. Orang yang menasehati saudaranya tanpa mengharapkan sesuatu dalam hatinya.
15. Orang yang senantiasa mempunyai wudlu.
16. Orang yang dermawan.
17. Orang yang baik akhlaknya.
18. Orang yang membenarkan jaminan Allah yang akan diberikan kepadanya.
19. Orang yang memperhatikan kepentingan janda-janda.
20. Orang yang selalu siap sedia mati karena Allah.

(Hadits dari Ibnu Abbas)

Sebenarnya untuk tidak menjadi teman iblis lebih banyak pilihannya, tapi justru lebih mudah untuk menjadi temannya. Karena telah disebutkan bahwa setan itu dari golongan jin dan manusia, maka berhati-hati jugalah dalam mencari teman.


Achmad N Hidayat
sumber: cerita dari Abu Ahmad dalam lembar Jumat

Jumat, 09 April 2010

Hadiah Terbaik Buat Seorang Ibu


Pengorbanan ibu sukar dinilai dengan wang ringgit mahupun harta benda. Kesulitan semasa hamil, melahirkan dan pelbagai cabaran membesarkan, mengasuh serta mendidik anak dihadapi dengan penuh tanggungjawab dan pasrah pada Ilahi. Hari Ibu yang hadir pada bulan Mei setiap tahun tidak harus dibiarkan tanpa pengisian yang bermakna. Sebagai anak kita sememangnya dituntut untuk menghargai jasa dan pengorbanan ibu yang membesarkan kita selaras dengan firman Allah:

“Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya dengan bersusah payah. Sedang tempoh mengandungnya beserta dengan tempoh menceraikannya susunya ialah dalam masa tiga puluh bulan. Setelah ia besar sampai ke peringkat dewasa yang sempurna kekuatannyadan sampai ke peringkat umur empat puluh tahun, berdoalah ia dengan berkata: “Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmat-Mu yang Engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal salih yang Engkau redhai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku dari orang Islam (yang tunduk patuh kepada-Mu)”. (S. Al-Ahqaaf: 15)
Justeru, bersempena hari Ibu yang jatuh pada 10 Mei yang lepas, Yayasan Kemanusiaan Muslim Aid Malaysia (Muslim Aid) telah menawarkan pakej hadiah istimewa untuk ibu tersayang di samping meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka yang lebih memerlukan.

Anda boleh membeli barangan berbentuk sumbangan dengan harga serendah RM600 untuk sebuah perigi bagi pihak ibu tersayang. Perigi atau tangki air ini akan disedekahkan di Bangladesh bagi mengatasi masalah kekurangan air bersih dan mengurangkan risiko penyakit berkaitan. Untuk pengetahuan kita semua, terdapat segelintir kaum wanita yang terpaksa berjalan 10km demi mendapatkan hanya sebaldi air sahaja.

Bagi setiap sumbangan perigi, Muslim Aid akan mengeluarkan sijil yang tertulis nama ibu berserta gambar perigi yang telah dihadiahkan. Pastinya hadiah yang anda hadiahkan kepada ibu anda adalah tahan lama, memberi faedah kepada banyak pihak, berharga, bermutu tinggi, dan sentiasa dikenang dan insyaAllah amalan ini boleh dibawa ke akhirat kelak.

Kamis, 08 April 2010

Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?

Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga membuka peluang bagi siapa saja untuk memasuki strata taqwa.

Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)


Di lapangan, ikhwan dan akhwat memang harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai wajihah dakwah kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.

Patut menjadi catatan, mengapa kader akhwat selalu lebih banyak dari kader ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Dan meski memang hidayah itu dari AllahSubhanahu wa Ta’ala , namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.

Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri?

Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa lembaga dakwah, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.

Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!

Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.

1. (G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.

2. (A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.

3. (N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki olah aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.

4. (T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.

Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….”
“Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung.
Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan.
“Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.

5. (E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.

Sebuah kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu segera melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”

6. (N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.

7. (G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat mereka menyadari adanya asap, barulah akhwat ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.

Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah ikhwan-akhwat. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Ar rijal Qawwamuna ‘alannisa. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Teman sejati, ukhuwah di dunia dan di akhirat. Amiin.



Get ISLAMIC-Graphics

Welcome to Al-Ausath Digital Network and Enjoy it!!!

DOWNLOAD MARS NIHAIE 2010

Wah skarang niha'i 2010 ada Mars nya & Videonya.. yang mau bisa di download disini lo??? belom tau kan?? tinggal klik bagi yang mau download yang gak ya gak usah gak papa, tapi bagus lo, klo di dengerin tu bikin terkenang ma pondok juga ma temen temn ntar klo kita pas Niha'i.... nie link Downloadnya:
Download Mars Nihai 2010 (Inspirasi Tertindaz)
klo ini link untuk Download Videonya:
Download Videonya