Kamis, 20 September 2012
Jadi ikhwan jangan Cengeng
Islamedia - Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikasih amanah pura-pura batuk..
Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk..
Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk..
Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut..
Afwan ane ngurus anu ngurus itu jadinya suntuk..
Terus dakwah gimana? digebuk?
Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit dengerin lagunya melankolis.
Minggu, 04 Desember 2011
ORANG YANG MERUGI DAN KECEWA
Setelah selesai khotbah, sahabat bertanya kepada beliau kenapa beliau tadi mengucap Amin tiga kali sewaktu menaiki tangga mimbar.
Ternyata ada tiga sebab pula kenapa beliau mengucap tiga kata Amin…:
1. Pada Amin yang pertama, kata Rosululloh: Jibril berkata alangkah Merugi dan Kecewanya seseorang yang mendengar kata Muhammad tapi dia tidak bersholat atas beliau.
Rabu, 29 Juni 2011
Amazing Periode
Dari Konsulat Al Ausath, tanggal 26 juni 2011 bertepatan hari ahad senyum dan rasa penuh bahagia memenuhi sebagian santri Al mukmin Ngruki karena telah menyelesaikan masa belajarnya selama 6 tahun dan 4 tahun bahkan 3 tahun secara tuntas. Sungguh tak terasa bertahun tahun di pondok dengan banyak nya bebatuan dan tembok bahkan kerikil yang mencoba terus menghalang halangi perjuangan kelas terakhir santri PONPES Al Mukmin Ngruki ini untuk semangat belajar dan belajar demi meneggakkan Agama Allah SWT. takbir!!Kamis, 10 Juni 2010
Pendeta Katolik, Menemukan Kebenaran Islam Saat Ramadhan

Sebelum memeluk agama Islam, ia adalah seorang pendeta agama Katolik Roma dan menjadi kepala bidan pendidikan agama di sekolah khusus anak laki-laki di selatan London. Bulan Ramadan menjadi bulan penuh kenangan bagi lelaki yang kemudian menggunakan nama Idris Tawfiq ini, karena pada bulan suci itulah ia menemukan Islam dan memeluk agama Islam hingga sekarang.
Di Inggris, kata Idris, semua siswa menerima pelajaran tentang enam agama utama yang dianut masyarakat dunia. Sebagai kepala bidang pendidikan agama, Idris yang ketika itu belum masuk Islam bertanggungjawab untuk memberikan mata pelajaran tentang agama Kristen, Yudaisme, Budha, Islam, Sikh dan Hindu. Ia hanya menjelaskan perbedaan keenam agama tersebut dan tidak mereferensikan siswanya untuk memeluk salah satu dari keenam agama tersebut.
Idris tentu saja harus membaca berbagai informasi tentang Islam sebelum memberikan pelajaran tentang agama Islam pada para siswanya. Karena pernah berkunjung ke Mesir dan melihat sendiri bagaimana kehidupan masyarakat Muslim, Idris mengaku respek dengan Muslim yang menurutnya ramah dan lembut. Di sekolahnya sendiri, sebagian siswanya adalah Muslim dan banyak dari mereka yang berasal dari negara-negara Arab.
Idris ingat, beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, beberapa siswanya yang Muslim mendekatinya dan bertanya apakah mereka bisa menggunakan kelas Idris untuk keperluan salat, kebetulan kelas tempat Idris mengajar berkarpet dan memiliki wastafel. Meski peraturan sekolah di Inggris saat itu tidak memberi ijin siswa untuk melaksanakan peribadahan di sekolah.
Idris mengijinkan permintaan siswanya itu. Tapi kepala sekolah mengharuskan seorang guru hadir untuk mengawasi kelasnya saat digunakan untuk salat. "Saya belum menjadi seorang muslim ketika itu, tapi Allah bekerja dengan caranya yang sangat istimewa, memberikan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan untuk membuat keajaiban dalam hidup kita," tukas Idris.
Maka, selama bulan Ramadhan itu, pada waktu makan siang, Idris duduk di belakang menyaksikan siswanya yang Muslim salat dzuhur, ashar dan salat jumat berjamaah. Apa yang dilihatnya ternyata menjadi pembuka jalan bagi Idris untuk mengenal Islam. Idris jadi tahu bagaimana seorang Muslim shalat dan ia bisa mengingat beberapa bacaan salat meksi ia tak paham artinya. Oleh sebab itu, usai Ramadan, Ia tetap membolehkan siswanya yang Muslim untuk salat di dalam kelasnya sampai Ramadan tahun berikutnya.
Kali ini, Idris yang masih belum masuk Islam, ikut berpuasa sebagai bentuk solidaritas terhadap siswanya yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ketika itulah keinginannya untuk masuk Islam semakin kuat dan setelah bulan Ramadhan itu, Idris memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi seorang Muslim.
"Alhamdulillah, saya menjadi seorang muslim. Tapi itu cerita lain. Apa yang dicontohkan para siswa saya yang Muslim telah membawa saya menjadi seorang muslim. Sejak itu, saya ikut shalat berjamaah bersama mereka, sebagai soerang mualaf," ungkap Idris.
Ramadhan tahun berikutnya adalah Ramadhan pertama bagi Idris sebagai seorang Muslim. "Ramadhan pertama itu sangat istimewa. Di akhir bulan Ramadhan, saya bersama para siswa menggelar buka puasa bersama. Untuk meraih malam Lailatul Qadar, saya bersama para siswa itikaf di sekolah," kenang Idris tentang Ramadhan pertamanya.
Usai jam sekolah saat Ramadhan, sambil menunggu waktu berbuka, Idris dan para siswanya yang Muslim menyaksikan film bersama tentang kehidupan Rasulullah Saw. Usai shalat maghrib berjamaah, mereka membuka bekal makananan dan minuman masing-masing yang dibawa dari rumah dan saling berbagai dengan yang lainnya.
Saat Idris menjalankan ibadah puasa Ramadhan pertamanya sebagai Muslim, ketika itu masyarakat Inggris sedang dilanda Islamofobia karena baru saja terjadi peristiwa serangan 11 September 2001 di AS. Banyak warga Inggris yang curiga pada Islam dan Muslim. Tapi alhamdulillah, beberapa guru non-Muslim di sekolahnya datang dan mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Kepala sekolah bahkan membawakan mereka kurma untuk berbuka, karena dari siswanya yang Muslim ia tahu bahwa Rasulullah Muhammad Saw selalu berbuka dengan makan kurma.
Idris mengakui, menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negara non-Muslim tidak mudah. "Seringkali kita menjadi satu-satunya orang yang berpuasa. Setelah berbuka, tidak ada kegiatan istimewa apalagi kalau letak masjid sangat jauh," ujar Idris.
"Tapi, malam-malam di Ramadhan pertama saya sebagai muslim adalah malam yang sangat istimewa yang tidak akan saya lupakan. Saya bisa menyampaikan pesan Islam pada semua yang hadir disana bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh kegembiraan dan penuh persaudaraan yang sangat menyentuh hati kita, Alhamdulillah," tukas Idris menutup kisah pengalaman Ramadhan pertamanya sebagai seorang yang baru masuk Islam. (ln/iol)
Kamis, 08 April 2010
Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?
Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga membuka peluang bagi siapa saja untuk memasuki strata taqwa.
Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)
Di lapangan, ikhwan dan akhwat memang harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.
Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai wajihah dakwah kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.
Patut menjadi catatan, mengapa kader akhwat selalu lebih banyak dari kader ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Dan meski memang hidayah itu dari AllahSubhanahu wa Ta’ala , namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.
Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri?
Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa lembaga dakwah, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.
Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!
Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.
1. (G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.
2. (A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.
3. (N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki olah aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.
4. (T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.
Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….”
“Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung.
Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan.
“Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.
5. (E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.
Sebuah kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu segera melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”
6. (N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.
7. (G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat mereka menyadari adanya asap, barulah akhwat ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.
Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah ikhwan-akhwat. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Ar rijal Qawwamuna ‘alannisa. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Teman sejati, ukhuwah di dunia dan di akhirat. Amiin.
Get ISLAMIC-Graphics
Senin, 05 April 2010
Indahnya Ibadah Bersama

Memang, kebersamaan lebih besar artinya karena ada kesepahaman dan kesatuan pemikiran. Misalnya, sama-sama paham Allah yang mengatur rizki. Sehingga muncul kebersamaan dan saling dukung ketika terjadi kesulitan finansial. Atau bersepakat mengatur kelahiran dan pendidikan anak.
Meski demikian, adanya kebersamaan secara fisik tetap penting. Sering dikatakan bahwa kalau sering bertemu justru akan cepat bosan, sebaliknya jarang bertemu akan menambah kerinduan. Tapi bagaimana kebersamaan dan kesepahaman akan terbangun seandainya kita dan pasangan jarang bersua?
Kadangkala kita juga lupa menciptakan suasana yang dapat membangun kebersamaan. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan bersama pasangan. Salah satunya adalah menjalankan ibadah bersama.
Pastinya beribadah ditujukan untuk Allah, bukan yang lain. Akan tetapi dengan menjalankannya bersama pasangan bisa menggugah lagi keharmonisan hubungan dengannya. Ada beberapa tips dan kegiatan ibadah yang insya Allah bisa menghangatkan lagi hubungan kita dengan si dia;
- Membuat kegiatan ibadah rutin. Salah satunya adalah shalat Jumat. Bagi para suami, sempatkan sesekali pulang ke rumah sebelum melaksanakan shalat Jumat. Bagi istri, siapkan perlengkapan shalat Jumat bagi si dia; sarung, baju koko dan peci. Pulang shalat Jumat Anda bersama pasangan bisa melanjutkan dengan kegiatan makan siang bersama.
- Mengerjakan shalat berjamaah di mesjid. Kaum wanita tidak dilarang mengerjakan shalat berjamaah di mesjid, meski lebih utama di rumah mereka. Sesekali ikut shalat berjamaah di mesjid bersama pasangan – apalagi di mesjid jami’ yang berada di pusat kota – sungguh merupakan perjalanan yang menyenangkan sekaligus berpahala.
- Menghadiri pengajian umum, seminar, training keislaman. Jika memang memungkinkan berangkat bersama pasangan, mengapa tidak dilakukan? Mengikuti kajian akan semakin seru karena Anda bisa berjalan bersama dan mendiskusikan materi kajian seusai acara.
- Tilawah bersama. Anda dan pasangan bisa saling mengingatkan tentang makhroj dan tajwid ketika tilawah. Termasuk Anda berdua bisa saling memotivasi untuk meningkatkan hafalan al-Quran.
Sabtu, 06 Februari 2010
UKHUWAH DALAM KONSUL

Jika ada jalinan kasih yang lebih kuat dari dua insan yang terikat oleh darah, maka itu adalah persaudaraan yang tumbuh dari hati para hamba Allah. Rasa cinta dan kasih sayang yang didasarkan pada keimanan kepada Allah. Karena energi yang ia keluarkan mampu melebur dinding-dinding perbedaan yang terbentuk dari ras, darah, ethnis, serta warna kulit.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, kelak ar-RAhman akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.” (Maryam :96)
Keimanan adalah tali pengikat hati para hamba, yang mampu membentuk rasa kasih dan sayang diantara mereka. Para hamba ini memiliki tujuan dan pegangan hidup yang sama, Al Qur’an nul Karim sebagai jalan meraih Ridho Illahi. Sehingga muncul keinginan untuk saling menolong dan bekerja sama dalam balutan ukhuwah islamiyah. Keikhlasan dan kesadaran untuk selalu berpegangan tangan dan beramal jama’I melukiskan kebersamaan yang begitu indah diantara mereka.
Sungguh eratnya tali persaudaraan yang terjalin diantara mereka menjadi cermin betapa kokohnya tali pengikat itu. Disaat yang satu terjatuh, layu dan tak berdaya, maka mukmin yang lain akan berebut untuk mengulurkan tangan mereka dan meraih tangan saudaranya itu. Sebuah uluran tangan kasih dan cinta berbalut keikhlasan yang mendamaikan. Setetes air kesejukan yang mampu melebur kobaran api keangkuhan dan kepedihan. Subhanallah….
Rasulullah memperumakan persaudaraan diantara mereka dengan perumpamaan yang sangat indah dan penuh makna. “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta-mencintai, sayang menyayangi, dan Bantu membantu diantara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur dimalam hari dan menggigil demam.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari An Nu’man ibn Basyir.
Seperti itulah persaudaraan di dalam islam. Muslim yang satu dengan yang lainnya ibarat satu tubuh, bilamana satu bagian tubuh terluka, maka bagian yang lain akan ikut serta merasakan sakit akibat luka tersebut. Karena diantara mereka ada pengait yang begitu dahsyat, Keimana kepada Robbul Izzati Tabaroka wa Ta’ala.
Tidak ada yang lebih membahagiakan dari seorang mukmin kecuali saat melihat sang sahabat memperoleh kebahagian dan tersenyum penuh kedamaian. Maka, saat itu juga ia adalah orang pertama yang akan ikut merasakan kebahagiaan itu. Karena kebahagian saudaranya adalah kebahagiaan untuknya jua.
Dan ingatlah, bahwa didalam keindahan sebuah persaudaraan, dalam kebersamaan itu, ada kerikil-kerikil kecil dan tajam yang setiap saat siap menggores dan memutus tali persaudaraan itu. Namun, sejatinya itu adalah sentuhan warna yang berbeda dalam sebuah persahabatan. Maka ketika kerikil-kerikil itu siap menerjang, cobalah untuk tetap tegar dan tenang, hadapi ia dengan pikiran jernih dan senyum ketenangan. Hadapi berdua, tidak sendirian. Karena berdua itu selalu lebih baik dan mudah. Insyaallah. Jangan lupakan nasehat bijak, Karena selalu ada sebait nasehat bijak dari seorang mukmin kepada sahabatnya. Nasehat ini ibarat sinar mentari yang memberikan secercah cahaya. Ia membawa energi cinta, semangat jiwa, dan tongkat inspiratif yang membuat sang sahabat mampu tetap tegak kala diterjang badai kehidupan. Karena nasehat ini telah menjelma menjadi tongkat kuat untuk berpegangan dan energi untuk terus melangkah.
Karena sahabat, aku mampu tetap tegak
dan karena sahabat, aku merasa berharga
karena sahabat pula aku mampu melewati terjangan ombak
Dan karena sahabatlah, aku tetap ada di sini,
untuk mereka
Salam cinta untuk para sahabat
